Analogi Kritik dan Kecintaan Negara

38

Opini

Awalus Shoim

Saya bisa juga bilang dulu di benci dan dicintai sekarang antara ditakuti dan dikagumi, logika inipun bisa di bolak balik sesuai selera atas tiap suksesi dan jalannya kepemimpinan di Indonesia.

Bukan cuma pak Fulan sebagai ASN (aparatur sipil negara) eselon dua yang berani lugas dengan kondisi yang ada dan juga dng resiko seragamnya. Banyak di beberapa daerah dan pusat. Ini menunjukkan sebegitu parah dan menghalalkan segala cara sebuah kekuasaan yang gamang dan otoriter.

Analogi yg paling mudah adalah membolak balikkan fakta, mulai dari penerbitan Perpu (saya merasakan era Mbah Harto hingga SBY) presiden yg paling tidak bisa di ajak dialogis dan arogan ya ini, bukan benci dan tidak, sangat satu arah top down.

Dengan sematan media (branding yg masif )merakyat dan angka angka makro, liat kelicikan dalam kenaikan bbm, dan super parahnya dalam kenaikan TDL (tarif dasar listrik), pajak hingga apapun yang menjadikan rakyat sebagai komoditas pemerasan.

Liat mereka yang merasa dan melihat Mr woow sebagai idola buta adalah dua hal : kalau karena ketidaktahuan dan kemiskinan yg sangat dengan tebaran kenyang perut usai esok lapar lagi, yang kedua orang orang yg sudah nyaman dalam lingkaran dan bukan dalam golongan muslim.

Kondisi yang lebih miris lagi, sedemikian parahnya adalah masyarakat Indonesia hingga terlupa dan melupakan kaidah dasar kausalitas sebab akibat, yang terlihat adalah ekses stigma, jangankan akibat, sebab yang menjadi dasar makin jauh api dari panggang, yang terlihat adalah riak riak kecil, bendera kalimatullah, penangkapan ustadz muslim, petasan panci rombeng di mana mana, tangkap eksekusi, pers release teroris mati. Hingga seorang profesional hermansyah harus menjadi martir permainan ala Hitler atau Theodore Hertz.

Dan tabir itu terbuka karena kuasa Nya. Kalau pun bukan keplesetnya lidah yang menjadi refleksi rasa hati yang tersimpan lama karena kebencian di seribu pulau betawi, rencana hegemoni busuk itu mulai terkuak, semakin menggelinding bak bola salju antartika, semua packaging telah di bungkus rapi, semua top seragam telah dikuasai, namun wa maakaru wa makarallah innallaha hoirul maakirin.

Rakyat Jakarta dan Indonesia umumnya adalah masyarakat permisif, mecintai kedamaian dan kebersamaan, seandainya cara cara mempertahankan kesalahan dan kekuasaan itu dilakukan dengam lebih lunak elegan mungkin cerita akan lain, tapi cerita lainpun bisa terbangun sendiri walau plan A sudah luluh, tinggal Y Z yang dalam kamus sebuah perencanaan nggak pernah dikeluarkan akhirnya liar dan menjadikan perlawanan yang nyata adanya.

#keprihatinan16Juli